Monday, 8 June 2015

Lembaga Seni Tiara Intan - Medley Melayu Padang

dengan tagline "Bersama Kita Lestarikan Seni dan Budaya Bangsa" LSTIA peformance
lihat videonya di mari ====>


https://www.youtube.com/watch?v=buhXictpp7Q

MARHABAN YA RAMADHAN

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa”. (Al Baqarah : 184)

Ramadhan berasal dari kata “ramadha” artinya menjadi panas.
Orang mengatakan “ramadha ash-shai’mu” artinya bagian tubuh orang yang berpuasa menjadi sangat panas dan haus karena puasa (Arabic-EnglishLexicon, EW Lane)
Bulan kesembilan tahun Qamariyah ini disebut Ramadhan karena:

1) Puasa di bulan ini menimbulkan panas disebabkan haus
2) Beribadah di bulan ini membakar habis bekas dosa-dosa manusia
3) Ibadah di bulan ini menimbulkan panas semangat cinta kepada Allah swt dan sesama manusia


Puasa dalam bahasa arab disebut “shawm” atau “shiyaam” yang salah satu artinya menahan atau mengendalikan, yaitu orang yang berpuasa menahan atau mengendalikan diri dari melakukan hal-hal yang menurut syari’at dapat membatalkan ibadah puasa yang dilakukannya.

Puasa merupakan bentuk ibadah yang mengandung unsure pengorbanan yang sempurna, karena didalam puasa manusia dituntut untuk melatih disiplin rohani dan disiplin moral yang memiliki nilai sosial. Manusia diajarkan akhlak yang tinggi yaitu dengan menjauhi hal-hal yang halal (makan, minum, bercampur dengan istri), sehingga hal yang dilarang akan ditinggalkan. Manusia yang sebelumnya menjadi budak hawa nafsu, bisa menjadi majikannya. Tanpa melihat perbedaan derajat kedudukan dan setatus social, orang yang berpuasa dapat merasakan lapar dan bagaimana bertahan hidup tanpa makan, sehingga dengan pengalaman ini dapat menimbulkan rasa simpati untuk bersedekah.



Bulan Ramadhan merupakan bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Pada bulan ini, umat muslim dengan penuh suka cita menjalankan puasa yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. selama sebulan penuh. Salah satu keutamaan bulan suci Ramadhan ialah turunnya rahmat, hidayah, dan ampunan bagi semua makhluk-Nya di dunia.
Di balik itu semua, ternyata bulan Ramadhan banyak merekam peristiwa penting bagi umat muslim, baik peristiwa yang dialami Nabi Muhammad, para sahabat, dan para pengikutnya. Hal itu menunjukkan keutamaan dan keistimewaan bulan suci Ramadhan. Bahkan, tak jarang peristiwa itu terabadikan di dalam Alquran. Terdapat 7 peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan. Peristiwa-peristiwa ini menjadi pengingat sekaligus penanda keutamaan bulan suci Ramadhan.

1. Peristiwa Pengangkatan Nabi sebagai Rasul dan Nuzulul Qur’an

Salah satu keutamaan bulan suci Ramadhan adalah turunnya Alquran. Tatkala Nabi Muhammad berusia empat puluh tahun, Nabi melakukan ‘uzlah (menyendiri) di gua kecil di bukit Hira yang terletak di luar Kota Mekah. Pada waktu itu, tradisi ‘uzlah pada bulan Ramadhan merupakan hal yang lazim dilakukan. Ketika Nabi sedang dilanda kegelisahan, kegundahan, keraguan, dan harapan akan kebenaran, saat itulah datang Malaikat Jibril menemuinya. Ia memerintahkan Nabi untuk membaca. Di saat itulah, Nabi menerima wahyu untuk pertama kali yang dikenal dengan surat al-Alaq: 1-5 yang sekaligus menjadi pertanda kenabiannya. Peristiwa itu diperingati sebagai malam nuzulul Qur’an atau diturunkannya Alquran di muka bumi, peristiwa itu terjadi pada akhir bulan Ramadhan tahun 610 M.

2. Terjadinya Lailatulkadar

Salah satu keutamaan bulan suci Ramadhan ialah adanya malam lailatulkadar, yaitu malam yang penuh keagungan, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ada juga yang berpendapat malam lailatulkadar juga terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, waktu dimana Alquran juga diturunkan. Peristiwa ini terabadikan dalam surat al-Qadr: 1-5.

3. Peristiwa Kemenangan Muslimin dalam Perang Badar

Akibat tindakan represif yang dilakukan kaum musyrikin Mekah terhadap kaum muslimin, terjadilah perang antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin untuk pertama kalinya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan 624 M atau tahun kedua setelah hijrah. Berkat kepemimpinan Nabi, perang ini berhasil dimenangkan kaum muslimin meskipun dengan jumlah pasukan dan peralatan perang minim, yaitu 313 orang melawan 1000 pasukan di pihak kaum musyrikin.

4. Penaklukan Kota Mekah (Fathul Makkah)


Penaklukan Kota Mekah (Fathul Makkah)
Peristiwa besar lainnya yang terjadi pada bulan Ramadhan ialah penaklukan Kota Mekah pada tahun 630 M atau 8 H. Peristiwa ini bermula ketika kaum kafir Quraisy Mekah mengkhianati perjanjian Hudaibiyah (perjanjian damai dengan kaum Muslim). Nabi pun memerintahkan untukmenginvasi Kota Mekah pada bulan Ramadhan di tahun yang sama. Saat itu pasukan Muslimin menghancurkan 360 berhala sesembahan kaum musyrikin di sekitar Ka’bah, termasuk berhala-berhala  besar yaitu Latta, Uzza, dan Manatta. Peristiwa ini juga diabadikan dalam surat an-Nashr: 1-3.

5. Terbunuhnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Peristiwa ini tepatnya terjadi pada 21 Ramadhan 40 H. Ali merupakan khalifah terakhir. Ketika periode Khulafaur Rasyidin, ia dibunuh oleh seorang dari kaum Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam dan meninggal dua hari kemudian. Kematian Ali bin Abi Thalib menandai berakhirnya sistem kekhalifahan Islam dan dimulainya sistem dinasti dalam tataran sistem pemerintahan kaum muslimin. Peristiwa itu juga menandakan dimulainya pertikaian diantara umat muslim.

6. Dimulainya Dinasti Abbasiyah

Pada bulan Ramadhan tahun 132 H atau tahun 750 M, berakhir sudah pemerintahan Bani Umayyah. Pada saat yang sama, Abu al-Abbas terpilih menjadi sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyyah. Keberadaan Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu peradaban manusia yang besar saat itu, kemajuan tak hanya diperoleh dalam kajian keislaman saja tetapi juga kajian ilmiah dan sastra, seperti kedoktrean, filsafat, astronomi, matematika, bahkan dalam bidang arsitektutur dan kesenian.

7. Awal Pembebasan Baitul Maqdis

Penghancuran dan penguasaan Kota Asqalan yang merupakan pintu masuk menuju Kota Baitul Maqdis pada tahun 584 atau 1070 M membuka jalan membebaskan al-Quds dari tangan penguasa bangsa Franka yang lalim. Penghancuran dan penguasaan kota ini dilakukan oleh panglima Shalahuddin al-Ayyubi dari dinasti Fathimiyah. Pada akhirnya, di tahun 1187 al-Quds berhasil dikuasai, adzan pun berkumandang di Masjidil Aqsha.

Itulah tujuh peristiwa yang terjadi pada bulan Ramadhan. Sungguh, Allah telah membukakan tanda-tanda kekuasaannya pada kita semua lewat keutamaan bulan suci Ramadhan yang terekam dalam peristiwa-peristiwa besar kaum muslimin masa lalu. Semoga keutamaan bulan suci Ramadhan ini akan terus kita ingat untuk dapat diambil hikmah dan pelajaran yang ada di dalamnya.

Sunday, 7 June 2015

LEBAH GAMBARAN ORANG BERIMAN


Firman Allah swt : “Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah : Buatlah rumah diatas bukit dan diatasa pohon kayu dan pada apa-apa yang mereka jadikan atap. Kemudian makanlah bermacam-macam buah-buahan dan laluilah jalan Tuhanmu dengan mudah. Keluar dari dalam perutmu madu yang berlain-lain warnanya untuk menyembuhkan penyakt manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda kekuasaan Allah bagi orang yang memikirkannya” (QS. An-Nahl : 68-69).

Didalam Al-Qur’an Allah swt. menanamkan satu surat dengan surat An-Nahl yang artinya lebah. Karena lebah adalah binatang yang bersih, rajin bekerja, memberi manfaat madu sebagai obat bagi manusia. Demikian diantara gambaran kehidupan orang yang beriman. Disamping itu Allah menyinggung binatang Ba’udhoh yang artinya lalat. Lalat adalah binatang yang kotor, hidup ditempat yang jorok, memakan makanan yang kotor dan membawa penyakit sehingga lalat dibenci oleh manusia. Lalat itu adalah gambaran bagi orang kafir.
Dari kedua gambaran tersebut, lebah sebagai gambaran orang beriman dan lalat gambaran orang kafir mempunyai perbedaan yang jelas dan berlawanan. Lebah memberi manfaata madu sebagai obat, lalat membawa penyakit, lebah sangat disukai manusia, sedang lalat sangat  dibenci oleh  manusia.

Gambaran kehidupan lebah yang perlu dicontoh

1. Hidup dari rezeki yang baik dan halal
Sebagai makhluk yang perlu makan, lebabh sangat rajin bekerja untuk mencari rezeki. Pagi-pagi sebelum matahari terbit, ia sudah bangun dan terbang mengembara kekebun-kebun, dari pohon ke pohon, dari bunga ke bunga untuk  menghisap madu sebagai makanannya. Begitu pulalah seharusnya orang beriman, tidak boleh malas. Sebab setiap pada waktu subuh orang beriman dipanggil untuk menghadap Allah swt. selesai shlat shubuh bekerja mencari rezeki dengan jalan yang baik dan sumber yang halal.
Sesuai firman Allah swt :
“Hai manusia, makanlah apa-apa di bumi yang halal dan baik, janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah : 168)
Diantara langkah-langkah syaitan yang perlu dijauhi orang beriman ialah dalam berusaha agar menghindari perbuatan curang atau penipuan, persaingan yang menimbulkan perkelahian dan permusuhan, jangan memfitnah, mengadu domba, berbuat zalim, dan mengambil hak-hak orang lain, dan sebagianya. Karena rezeki yang diperoleh dari usaha yang tidak baik itu tidak berkah dan hukumnya haram yang dapat menjerumuskan manusia ke neraka Jahannam.

2. Bekerja Azas Manfaat Bersama
Lebah bekerja, sementara mulutnya menghisap madu, kakinya bekerja mengawinkan bunga dengan mempertemukan kedua putik sarinya. Dengan demikian lebah beruntung mendapatkan madu dan bungapun memperoleh untung atas bantuan lebah dengan perkawinan putik sari menjadi buah.
Begitulah seharusnya pekerjaan orang beriman. Bekerja untuk keuntungan bersama, dengan tidak merugikan orang lain. Hakikat kehidupan orang beriman menekankan sikap hidup saling bantu membantu untuk terwujudnya keuntungan bersama.
 Firman Allah swt :
“Bertolong-tolonganlah kamu berbuat baik dan taqwa, dan jangan bertolong-tolongan berbuat dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah : 3)
Dalam hal tolong menolong dalam ayat diatas, hanya dibenarkan berbuaut kebaikan, tidak dibenarkan bekerja sama berbat dosa dan menimbulkan permusuhan, apalagi sampai memutuskan silaturahmi, hukumnya haram.

3. Mempersiapkan Bekal Untuk Hari Esok
Lebah disamping rajin bekerja, setelah memperoleh rezeki yang ia usahakan, ia bersikap hemat. Ia tidak melahap habis madu yang ia peroleh hari ini, tetapi sebahagian ia simpan untuk hari esok. Bila kemarau datang, saat bunga-bunga berguguran dan makanan tidak didapat, mereka tidak cemas sebab madu yang mereka kumpulkan pada musim bunga itu cukup untuk persediaan masa kemarau. Falsafah hidup lebah seperti ini adalah gambaran kehidupan seorang muslim. Bahwa orang beriman harus giat bekerja dan beramal untuk kebutuhan hari ini, hari esok dan persiapan bekal hidup sesudah mati.
Rasulullah saw. bersabda :
“Bekerjalah untuk duniamu, seolah-olah kau akan hidup untuk selama-lamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah engkau akan mati esok hari”.
Kemudian firman Allah swt :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan memperhatikan apa-apa yang ia kerjakan, untuk bekal di hari esok” (QS. Al-Hasyar : 18)

4. Sumber Akhlak Yang Baik
Sesuai hadits Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disebutkan bahwa :
“Lebah itu bila memakan sesuatu, ia memakan sesuatu yang baik, bila mengeluarkan sesuatu mengeluarkan yang baik, bila hinggap diranting pohon, tidak membuat ranting patah”.
Manfaat madu tidak hanya untuk lebah saja, manusiapun turut mengambil manfaat madunya, menjadi obat menambah kesehatan dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dari lebah juga diambil manfaat sebagai bahan membuat lilin dipergunakan untuk menerangi kehidupan manusia, menerangi dari kegelapan.
Begitulah gambaran akhlah orang beriman dalam kehidupannya, selalu terpanggil untuk berbuat kebajikan dan menghindarkan diri dari sofat keji dan kemunkaran. Selain itu sifat lebah tidak sombong, walaupun ia dianugerahi senjata ampuh berbentuk jarum dibelakang tubuhnya mengandung racun. Tidak pernah dipergunakannya untuk menakut-nakuti pihak lain, apalagi menyala gunakannya. Dan senjata yang ia miliki hanya dipergunakan dalam keadaan terpaksa untuk membela diri dan saat bahaya.

5. Hidup Bersatu dan Berjama’ah
Kehidupan lebah selalu bersatu dan berjama’ah dibawah pimpinan ratu lebah. Mereka hidup rukun damai dan aman dan bekerjasama untuk mencari rezeki memenuhi kebutuhan bersama. Tidak ada seekor lebahpun berbuat curang dan mementingkan diri sendiri.
Begitulah seharusnya kehidupan orang beriman. Dimana sesama orang beriman itu adalah bersaudara. Karena bersaudara, hidupnya harus bersatu, tolong menolong, bantu membantu, menghindari perselisihan dan permusuhan. Kata kuncinya adalah :

“BILA UMMAT ISLAM BERSATU, AKAN LEBIH MAJU, BILA UMMAT ISLAM PECAH, MAKA AKAN KALAH”
Firman Allah swt :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kamu mati, melainkan kamu keadaan muslim. Berpegang teguhlah kamu kepada agama Allah (agama Islam) dan janganlah kamu berpecah belah...” (QS. Ali-Imran : 103)

***AA/relawan spj